Artikel ini diterjemahkan secara otomatis dan mungkin mengandung ketidakakuratan kecil. Versi bahasa Inggris asli adalah rujukan yang otoritatif.
Ada satu frasa Jepang yang menjelaskan kehidupan sehari-hari di Jepang lebih baik daripada daftar sopan santun mana pun: meiwaku wo kakenai.
Artinya, kurang lebih, "jangan merepotkan orang lain." Tapi terjemahan bahasa Indonesianya terdengar lebih keras dan lebih seperti aturan tertulis dibanding perasaan yang sebenarnya ada di baliknya dalam bahasa Jepang. Di Jepang, ini bukan perintah tertulis, melainkan lebih seperti refleks sosial. Sebelum bertindak, orang diam-diam bertanya pada diri sendiri: apakah ini akan membuat sesuatu jadi lebih sulit, lebih berisik, lebih lambat, lebih kotor, lebih canggung, atau lebih tidak nyaman bagi orang-orang di sekitar saya?
Bagi wisatawan, memahami ide ini jauh lebih penting daripada menghafal setiap aturan kecil. Ini menjelaskan mengapa kereta terasa sunyi, mengapa ruang publik sering terasa tertib, mengapa orang mengantre dengan rapi, mengapa Jepang bisa terasa luar biasa aman di malam hari, dan mengapa perilaku yang tampak tidak berbahaya di tempat lain bisa jadi mencolok di sini.
Ini bukan tentang menjadi orang Jepang selama perjalananmu. Tidak ada yang mengharapkan itu. Ini tentang memahami logika tersembunyi di balik ketenangan yang dinikmati banyak wisatawan.
Ini Dipelajari Sejak Dini
Ketika orang Jepang tumbuh dengan ide untuk tidak merepotkan orang lain, biasanya itu tidak datang sebagai satu pelajaran dramatis. Ini terbentuk lewat sekolah, keluarga, kehidupan bertetangga, dan rutinitas kecil masa kanak-kanak.
Di sekolah-sekolah Jepang, anak-anak menghabiskan banyak waktu melakukan sesuatu bersama-sama: festival olahraga, pertunjukan sekolah, membersihkan kelas, mempersiapkan acara, berlatih gerakan kelompok, membawa peralatan, membagikan makan siang, mengantre, menunggu giliran. Ini bukan sekadar kegiatan. Semua ini mengajarkan anak untuk merasakan keberadaan kelompok.
Kamu belajar bahwa bagianmu memengaruhi bagian orang lain. Kalau kamu terlambat, ada orang yang menunggu. Kalau kamu tidak membersihkan area tugasmu, orang lain yang harus melakukannya. Kalau kamu terlalu berisik saat kelas lain sedang belajar, kamu telah mengganggu orang yang bahkan mungkin tidak kamu kenal.
Ada juga kesadaran yang kuat akan komunitas lokal. Anak-anak sering diajarkan bahwa mereka didukung oleh tetangga, guru, pemilik toko, orang tua teman sekelas, penyeberang jalan, dan orang-orang di sekitar sekolah. Perasaannya bukan sekadar "aku tinggal di sini." Lebih dekat ke "aku ada di sini karena orang lain membantu menjaga tempat ini tetap utuh."
Itulah tanah tempat meiwaku wo kakenai tumbuh.
Mengapa Kereta Begitu Sunyi
Tempat termudah bagi wisatawan untuk memperhatikan hal ini adalah transportasi umum.
Di kereta Jepang, berbicara dengan suara keras umumnya dianggap sopan santun yang buruk. Orang tetap mengobrol, tentu saja. Teman-teman berbincang. Orang tua berbicara pada anak-anaknya. Pasangan berbisik soal di mana harus berpindah kereta. Tapi volume suara yang dianggap wajar di sini lebih rendah dibanding banyak negara lain. Sebagian orang Jepang berbicara begitu pelan di kereta sehingga obrolan antar teman pun terdengar seperti bisikan pribadi.
Panggilan telepon lebih sensitif lagi. Menerima telepon di dalam gerbong kereta secara luas dianggap tidak sopan, bahkan jika isi percakapannya sama sekali tidak berbahaya. Seorang wisatawan mungkin berpikir, "Aku cuma bicara sebentar, satu menit saja." Tapi penumpang Jepang di dekatnya mungkin merasa, "Semua orang di sini terpaksa mendengar urusan pribadimu."
Masalahnya bukan pada ponselnya sendiri. Mengirim pesan teks itu normal. Melihat peta itu normal. Menggunakan ponsel dengan tenang itu normal. Masalahnya adalah suara yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh orang lain.
Untuk wisatawan mancanegara, saran praktisnya sederhana: di kereta dan bus, jaga volume suaramu tetap rendah dan jangan menerima telepon di dalam gerbong. Kalau perlu bicara, turun di stasiun berikutnya, gunakan peron, atau tunggu sampai kamu keluar dari area transit.
Satu kebiasaan ini akan membuatmu berbaur lebih baik dibanding hampir semua hal lainnya.
Aturannya Bukan "Selalu Diam"
Kesalahan umum adalah menafsirkan sopan santun Jepang sebagai "orang Jepang selalu diam di mana-mana." Itu tidak benar.
Jepang punya tempat-tempat yang ramai. Izakaya bisa berisik. Jalanan festival bisa berisik. Stadion bisbol berisik. Ruang karaoke ada karena orang memang ingin tempat untuk berisik. Bar berdiri yang penuh sesak sepulang kerja bisa dipenuhi tawa, teriakan, dan denting gelas.
Aturan sebenarnya bukan diam. Aturan sebenarnya adalah membaca suasana.
Di kafe yang tenang, sesuaikan dengan suasana kafe itu. Di restoran yang sunyi, jaga volume suaramu tetap rendah. Di izakaya di mana semua orang minum, tertawa, dan memesan ronde berikutnya, kamu bisa lebih santai. Kalau tokonya memang dibangun untuk suasana ramai, keramaian bukan masalah. Kalau tokonya dibangun untuk suasana tenang, energimu perlu diturunkan.
Inilah mengapa daftar sederhana "lakukan ini, jangan lakukan itu" sering gagal. Volume suara yang terasa normal di satu tempat bisa terasa mengganggu di tempat lain. Sopan santun Jepang sering bergantung pada suasana, bukan hanya kategori tempatnya.
Pertanyaan paling berguna adalah: apa yang sedang dilakukan orang lain di sini?
Tidak Merepotkan Orang Lain Juga Soal Ruang
Meiwaku bukan hanya soal suara. Ini juga soal ruang.
Di Jepang, terutama di kota-kota, orang terbiasa berbagi ruang sempit: peron stasiun, koridor stasiun, lorong minimarket, eskalator, meja konter restoran, lift kecil, jalur menuju kuil, jalan-jalan perumahan. Di tempat-tempat ini, orang sering melakukan penyesuaian kecil tanpa berpikir panjang.
Mereka berdiri di pinggir sebelum memeriksa peta. Mereka menghindari menghalangi gerbang tiket. Mereka menurunkan ransel dari pundak saat kereta padat. Mereka tidak berhenti mendadak di tengah arus orang. Mereka menjaga koper tetap dekat dengan tubuh. Mereka menunggu sampai tidak menghalangi jalan sebelum mengambil foto.
Tidak satu pun dari tindakan ini terlihat mencolok. Itulah intinya. Kenyamanan publik di Jepang terbentuk dari tindakan-tindakan kecil dan biasa yang mencegah gesekan sebelum terjadi.
Bagi wisatawan, ini berarti kamu tidak perlu sempurna. Cukup berhenti sejenak sebelum berhenti mendadak, merekam video, menghamparkan koper, atau berkumpul dalam rombongan. Tanyakan pada dirimu: apakah aku sedang menjadi penghalang?
Kalau jawabannya iya, geser satu langkah ke samping. Satu langkah itu penting.
Sisi Baiknya: Ketenangan, Keamanan, Kepercayaan
Banyak wisatawan menggambarkan Jepang sebagai tempat yang damai, aman, dan mudah dilalui. Mereka melihat anak-anak berangkat sekolah sendiri, orang meninggalkan barang bawaan di kursi kafe, jalanan larut malam yang terasa lebih tenang dari perkiraan, dan peron kereta di mana orang-orang asing berdiri berdekatan tanpa suasana yang terasa agresif.
Kesan-kesan itu nyata. Tapi bukan sihir.
Sebagian berasal dari infrastruktur, kepolisian, desain, dan kondisi ekonomi. Tapi juga berasal dari tak terhitung banyaknya orang yang membatasi ketidaknyamanan yang mereka timbulkan bagi orang lain. Ketenangan yang kamu rasakan dihasilkan oleh semua orang yang melakukan hal-hal kecil: merendahkan suara, mengantre, membersihkan, tidak mendorong-dorong, tidak menampakkan emosi pribadi di ruang publik, tidak mengambil lebih banyak ruang dari yang diperlukan.
Dari luar, ini bisa terlihat mengalir begitu saja tanpa usaha. Dari dalam, ini adalah sebuah kebiasaan.
Salah satu alasan mengapa Jepang terasa nyaman bagi banyak wisatawan adalah karena orang-orang terus-menerus membuat kehidupan publik sedikit lebih mudah bagi orang-orang yang mungkin tidak akan pernah mereka temui.
Sisi Sulitnya: Sopan Santun Bisa Berubah Jadi Tekanan
Akan tidak jujur kalau menggambarkan meiwaku wo kakenai sebagai sesuatu yang hanya indah.
Budaya yang sama yang menciptakan ketenangan juga bisa berubah jadi tekanan. Kalau semua orang diharapkan memperhatikan kelompok, orang yang gagal memperhatikannya bisa cepat dihakimi. Kadang penghakiman itu diam-diam: sebuah tatapan, perubahan bahasa tubuh, seseorang yang menjauh. Kadang jadi langsung. Seseorang mungkin menegurmu, berbicara dengan tajam, atau bersikap seolah kesalahan kecil adalah kegagalan moral yang serius.
Ini memang bisa terjadi. Tapi penting untuk memahami bahwa orang-orang seperti itu bukan mewakili seluruh Jepang. Kebanyakan orang Jepang mengerti bahwa wisatawan asing sedang belajar. Mereka tahu kamu mungkin belum mengenali aturan tak tertulis untuk pertama kalinya. Mereka mungkin merasa tidak nyaman, tapi biasanya tidak akan menganggap kamu berniat buruk.
Masalah yang lebih sulit adalah ketika seseorang mengubah "tidak merepotkan orang lain" menjadi senjata untuk menyerang orang lain. Sopan santun seharusnya mengurangi gesekan. Ketika seseorang menggunakan sopan santun untuk menyerang, mereka justru menciptakan jenis masalah yang berbeda.
Jadi kalau kamu membuat kesalahan dan seseorang bereaksi keras, jangan langsung menyimpulkan bahwa orang Jepang membenci wisatawan. Minta maaf secara singkat, sesuaikan perilakumu, dan lanjutkan. Satu interaksi yang tegang bukan mewakili seluruh budayanya.
Overtourism Membuat Orang Lebih Sensitif
Ada satu alasan lain mengapa hal ini penting sekarang: banyak tempat populer di Jepang sedang mengalami tekanan akibat pariwisata.
Jalanan Kyoto, titik pandang terkenal, bus-bus kecil, koridor stasiun, jalur menuju kuil, jalan belanja lokal, dan lingkungan perumahan semuanya bisa terasa lebih padat dari sebelumnya. Ketika penduduk lokal mengalami gangguan kecil yang sama setiap hari, mereka jadi lebih sensitif terhadapnya.
Ini bukan hanya soal wisatawan asing. Wisatawan domestik Jepang pun bisa merepotkan orang lain. Tapi wisatawan mancanegara lebih terlihat mencolok ketika mereka belum mengenal sinyal-sinyal lokal.
Intinya bukan untuk membuatmu cemas. Justru sebaliknya. Kalau kamu memahami suasananya, perjalananmu akan terasa lebih lancar. Kamu akan mendapat lebih sedikit tatapan tajam, merasa lebih tidak canggung, dan lebih menyadari hal-hal yang membuat Jepang menyenangkan sejak awal.
Menghormati meiwaku wo kakenai bukan sekadar sesuatu yang kamu lakukan demi Jepang. Ini juga sesuatu yang kamu lakukan demi perjalananmu sendiri.
Cara Mempraktikkannya Sebagai Wisatawan
Kamu tidak perlu menghafal seratus aturan sopan santun. Mulailah dengan ini:
- Di kereta dan bus, jaga volume suara tetap rendah dan hindari menerima telepon.
- Sebelum berhenti untuk memeriksa peta, geser ke pinggir.
- Jaga koper besar tetap dekat denganmu di stasiun dan kereta.
- Sesuaikan dengan suasana restoran: tenang di tempat yang tenang, santai di tempat yang ramai.
- Jangan merekam atau memotret dengan cara yang menghalangi jalan atau membuat orang merasa diawasi.
- Di kawasan perumahan, kurangi volume suaramu meski jalanannya terlihat indah.
- Kalau seseorang menegurmu, permintaan maaf singkat dan penyesuaian sudah cukup.
Prinsip yang lebih dalamnya sederhana: perhatikan orang-orang di sekitarmu sebelum bertindak.
Yang Kuharap Dipahami Wisatawan
Jepang bisa terasa luar biasa damai bagi para pengunjung. Kedamaian itu adalah salah satu kenikmatan terbesar dari bepergian ke sini. Ini adalah kereta yang sunyi setelah hari yang panjang, minimarket yang bersinar di tengah malam, restoran kecil di mana semua orang tampak tahu seberapa banyak ruang yang boleh mereka ambil, gang perumahan di mana tidak ada apa pun yang dramatis terjadi dan justru itulah yang membuatnya terasa menyenangkan.
Tapi suasana itu tidak terpisah dari sopan santun Jepang. Suasana itu diciptakan olehnya.
Kamu mungkin akan merasakannya sedikit membatasi pada awalnya. Itu wajar. Bahkan orang Jepang sendiri bisa merasakannya sebagai sesuatu yang membatasi. Tidak ada budaya yang hanya memberikan manfaat saja. Tapi ketenangan, keamanan, dan ketertiban yang dicintai banyak pengunjung terhubung dengan kebiasaan memikirkan orang lain terlebih dahulu ini.
Kamu tidak harus jadi sempurna. Kamu tidak perlu panik soal setiap gerakanmu. Kamu hanya perlu membawa satu ide ini bersamamu:
Sebelum aku bertindak, siapa lagi yang berbagi ruang ini denganku?
Pertanyaan itu akan membawamu jauh di Jepang.
Apa arti meiwaku wo kakenai?
Artinya "jangan menyebabkan masalah" atau "jangan merepotkan orang lain." Dalam kehidupan sehari-hari, ini sering berarti memperhatikan bagaimana perilakumu memengaruhi orang-orang di sekitarmu sebelum kamu bertindak.
Apakah tidak sopan berbicara di kereta di Jepang?
Percakapan pelan itu biasa, tapi percakapan keras akan terlihat mencolok. Menerima telepon di dalam gerbong kereta umumnya dianggap sopan santun yang buruk. Mengirim pesan teks, memeriksa peta, dan menggunakan ponsel dengan tenang itu normal.
Apakah sopan santun Jepang ketat bagi wisatawan asing?
Kebanyakan orang mengerti bahwa wisatawan sedang belajar dan belum tahu semua aturan tak tertulis. Pendekatan terbaik adalah mengamati suasana ruangan, jaga volume suara dan penggunaan ruangmu tetap sederhana di ruang publik, dan sesuaikan dengan cepat kalau ditegur.
Bolehkah berisik di izakaya?
Sering kali, boleh. Izakaya adalah ruang sosial untuk minum bersama dan bisa jadi meriah. Kuncinya adalah menyesuaikan diri dengan suasana tempat tersebut secara spesifik. Tempat minum yang ramai dan kafe yang tenang punya ekspektasi yang berbeda.
Apa yang harus kulakukan kalau seseorang menegurku?
Minta maaf secara singkat, ubah perilakumu, dan lanjutkan. Jangan biarkan satu reaksi keras menentukan seluruh pandanganmu tentang Jepang. Sebagian orang lebih agresif soal sopan santun dibanding yang lain, tapi mereka bukan mewakili semua orang.





